KOMPETISIDEBAT SASTRA TINGKAT SMA 2022. Temukan pengalaman dan gagasan baru melalui kesenian dan pemikiran di Salihara Arts Center. KOMPETISI. ACARA. SEWA. Dukung program kami. Selengkapnya. Previous. Next. Salihara Arts Center Jl. Salihara No.16, Ps. Minggu, Kec. Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12520 Di sana ada grup yang namanya Sinematografi Jakarta, kemudian orang-orangnya sudah tidak ada yang aktif dan saya coba mengusulkan ke beberapa anggotanya untuk kita berkumpul dan membuat satu komunitas lagi," ucap salah satu founder Komunitas Film Pendek Jakarta Muchamad Rizki Adam kepada Kebon Sirih, Menteng Jakarta Pusat (19/6/2019). Kehadirankomunitas sastra sebenarnya menjadi wadah bagi penulis merintis jalan kesustraan mereka. Seperti komunitas sastra Stomata di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan komunitas sastra Rusa Besi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang menjadi wadah diskusi para mahasiswa sastra. BUKUORI PEMETAAN KOMUNITAS SASTRA DI JAKARTA, BOGOR, TANGERANG di Tokopedia ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Cicilan 0% ∙ Kurir Instan. Beli BUKU ORI PEMETAAN KOMUNITAS SASTRA DI JAKARTA, BOGOR, TANGERANG di BUKU SENI. Untuktempat nongkrong komunitas seni all in one di Jakarta, anda bisa berkunjung ke Komunitas Salihara Art Centre. Lokasi yang telah berdiri selama 10 tahun ini seringkali menjadi lokasi pertunjukan seni teater, tari, konser musik, pemutaran film, hingga pembacaan sastra. PemetaanKomunitas Sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi bekerja sama dengan Litbang Harian Kompas, 1998. Pembacaan dan musikalisasi puisi bertajuk "Dunia Sastra Buruh" di Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, 1 Desember 1999. Komunitassastra tentu tidak hanya ada di Jakarta dan kota-kota besar saja, tapi juga di daerah-daerah. Bagus sekali Kongres KSI ini bisa diadakan di Kudus, tidak di Jakarta atau kota besar lainnya. Jika ada istilah 'komunitas sastra', saya ingin menambahkan istilah 'sastra komunitas'. GubernurDKI Jakarta Anies Baswedan (Sumber Foto: dok. InfoPublik) Jakarta, InfoPublik - Jakarta terpilih sebagai City of Literature atau Kota Sastra Dunia, yang diumumkan oleh UNESCO melalui laman resminya, 8 November 2021. Jakarta masuk sebagai salah satu dari 49 kota lain di dunia yang tergabung dalam jaringan kota kreatif dunia (UNESCO's Creative City Network) tahun 2021 PWweXCr. Siaran Pers 20 TAHUN KOMUNITAS SASTRA INDONESIA KSI KEGEMBIRAAN BERORGANISASI & BERKARYA MELALUI KONGRES & SEMINAR SASTRA Seminar Sastra “Kembali ke Literasi Peta & Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia” Memasuki usia ke-20 tahun, Komunitas Sastra Indonesia KSI akan menggelar Kongres Komunitas Sastra Indonesia III di Kota Tangerang Selatan Tangsel, Banten, selama 8-10 Januari 2016. Selain pemilihan pengurus KSI periode 2016-2019 sebagai agenda utama, kongres juga akan diisi seminar sastra nasional dengan tema “Kembali ke Literasi Peta dan Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia”. Kongres diharapkan akan dibuka oleh Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany. “Kongres dan seminar sastra ini ingin kami jadikan pijakan untuk membangun kegembiraan berorganisasi dan berkarya di dalam komunitas sastra. Dua puluh tahun lalu, KSI merupakan komunitas sastra yang kecil, tapi terasa lapang. Kami melakukan berbagai aktivitas sastra secara gembira dan guyub. Sekarang, KSI menjadi komunitas sastra yang tergolong besar dengan cara pandang dan latar belakang para anggota yang beragam. Kami ingin, keragaman tersebut bukan penghalang untuk membangun kegembiraan berorganisasi dan berkarya,” papar Wowok Hesti Prabowo, Ketua Dewan Pendiri KSI. Karena itu, Wowok melanjutkan, salah satu yang ingin ditekankan KSI ke depan adalah satu hal mendasar bagi komunitas sastra, yakni tradisi literasi yang bermuara pada penerbitan buku. Karena itu, kongres kali ini—dan juga seminar sastra nasional—akan mengusung tajuk “Kembali ke Literasi Peta dan Prospek Penerbitan Komunitas Sastra di Indonesia”. “Ahmadun Yosi Herfanda, Diah Hadaning, Hasan Bisri BFC, dan Nanang Ribut Supriyatin direncanakan menjadi pembicara pada seminar tersebut,” tambah Shobir Poer, Ketua Panitia Pelaksana Kongres KSI III Tahun 2016. Selain itu, masih menurut Wowok, “Untuk melanjutkan berbagai kegiatan dan kerja sama serta menjajaki berbagai peluang baru dan menjawab berbagai tantangan baru sesuai dengan perkembangan dan tuntuan zaman, KSI akan bermusyawarah untuk memilih kepengurusan baru serta merumuskan langkah-langkah atau program-program baru yang lebih strategis dan efektif untuk meningkatkan kontribusi KSI terhadap perkembangan sastra di Indonesia,” Shobir Poer menjelaskan, selain kongres dan seminar sastra, kegiatan ini juga akan dimeriahkan dengan pentas sastra dan wisata alam ke Kandank Jurank Doank di Tangsel. “Kongres KSI ini akan diikuti 75 peserta, yang berasal dari pengurus KSI di tingkat pusat serta perwakilan pengurus KSI cabang dari seluruh Indonesia dan luar negeri. Sedangkan, di luar kongres, sejumlah acara pendukung akan dihadiri tamu undangan, masyarakat, dan kalangan pers,” ujar Shobir. Kiprah KSI Dalam pertumbuhan dan perkembangan sastra di Indonesia, peran komunitas sastra sangat penting. Komunitas sastra tidak hanya menjadi wadah pembinaan calon penulis dan pengembangan apresiasi sastra masyarakat, tetapi juga ikut memberikan arah perkembangan corak estetik dan tematik kesastraan Indonesia. Bahkan, secara ideologis, komunitas-komunitas sastra ikut juga memengaruhi orientasi penciptaan para sastrawan Indonesia. Sejak ditubuhkan pada 1996, Komunitas Sastra Indonesia KSI terus berupaya melaksanakan peran-peran tersebut. Bersama komunitas sastra yang lain, KSI terus berupaya mendorong pertumbuhan dan perkembangan sastra Indonesia ke arah yang lebih sehat dan kondusif untuk ikut melahirkan para penulis baru dan karya-karya yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan sastra Indonesia. KSI merupakan organisasi pertama di Indonesia—sekurangnya di bidang kesusastraan atau bahkan di bidang kesenian—yang menggunakan kata komunitas atau frase komunitas sastra sebagai bagian dari nama organisasinya. Dua puluh tahun lalu, belum ada organisasi di bidang kesusastraan atau bahkan di bidang kesenian di Indonesia yang menggunakan kata atau frase tersebut. Kata komunitas sendiri masih sangat jarang digunakan dalam wacana lisan atau wacana tulisan pada saat itu. Pada 2016 ini, KSI akan memasuki usia 20 tahun, suatu tahapan usia yang mulai matang. Tak banyak komunitas sastra di negeri ini yang mampu bertahan selama rentang waktu tersebut. Selama itu, KSI telah berkembang menjadi komunitas sastra yang bukan hanya berkiprah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi Jabodetabek, melainkan juga meluas ke hampir banyak wilayah di Tanah Air dan bahkan luar negeri. Cabang atau koordinat KSI kini berdiri di banyak kabupaten/kota dan provinsi di Indonesia dan beberapa kota di luar negeri. Berbagai kegiatan telah dilakukan KSI, baik di tingkat pusat maupun di tingkat cabang atau koordinat. Mulai dari diskusi, bengkel penulisan, seminar, penelitian, penerbitan buku, sayembara penulisan, pementasan, pemberian penghargaan, hingga kegiatan kepedulian sosial, baik dalam skala terbatas maupun skala yang lebih luas, termasuk skala internasional, seperti menyelenggarakan Jakarta International Literary Festival JIL-Fest. Berbagai kegiatan tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh para anggota dan pengurus KSI sendiri atau bekerja sama dengan banyak pihak. Selama ini, KSI telah bekerja sama dengan lembaga atau instansi pemerintah pusat atau daerah, badan usaha milik pemerintah pusat atau daerah, badan usaha swasta nasional, lembaga swadaya masyarakat, komunitas budaya, komunitas seni, dan komunitas sastra lain, baik di Indonesia maupun di luar Indonesia, seperti Gabungan Penulis Nasional Gapena, Malaysia. Dewan Pendiri & Peserta Kongres Dewan Pendiri KSI Ahmadun Yosi Herfanda Ayid Suyitno PS Azwina Aziz Miraza Almarhumah Diah Hadaning Hasan Bisri BFC Iwan Gunadi Medy Loekito Shobir Poer Slamet Rahardjo Rais Wig SM Wowok Hesti Probowo Peserta Kongres 1. Abdul Karim 2. Ahmadun Yosi Herfanda 3. Ali Syamsudin Arsi 4. Amdai Yanti Siregar 5. Amien Wangsitalaja 6. Aria Patrajaya 7. Aris Kurniawan 8. Arsyad Indradi 9. Ayid Suyitno PS 10. Ayu Cipta 11. Bambang Joko Susilo 12. Bambang Widiatmoko 13. Budi Setyawan 14. Dharmadi 15. Diah Hadaning 16. Dianing Widya Yudhistira 17. Dimas Arika Mihardja 18. Dinullah Rayes 19. Eka Budianta’ 20. Eko Suryadi WS 21. Endang Supriadi 22. Endo Senggono 23. Erwan Juhara 24. Esthi Winarni 25. Evi Idawati 26. Fakhrunnas MA Jabbar 27. Fatin Hamama 28. Gito Waluyo 29. Habiburrahman El Shirazy 30. Hamdy Salad 31. Hasan Bisri BFC 32. Hudan Nur 33. Humam S. Chudori 34. Husnul Khuluqi 35. I Wayan Arthawa 36. Idris Pasaribu 37. Iman Sembada 38. Iwan Gunadi 39. Jamal T. Suryanata 40. Jumari HS 41. Khoirul Anwar 42. Kurnia Effendi 43. Lukman Asya 44. M. Abbullah 45. Mahrus Prihany 46. Mahdiduri 47. Medy Loekito 48. Micky Hidayat 49. Muhary Wahyu Nurba 50. Mustafa Ismail 51. Mustafa W. Hasyim 52. Nana Eres 53. Nanang Ribut Supriyatin 54. Nanang Suryadi 55. Nirwondo El-Naan 56. Omni S. Koesnadi 57. Peny S. 58. Pudwianto Arisanto 59. Rita Jassin 60. Roel Sanre 61. Sandi Firly 62. Santhinet 63. Shobir Poer 64. Slamet Rahardjo Rais 65. Suyanto 66. Teteng Jumara 67. Thomas Budi Santoso 68. Toto St. Radik 69. Viddy Alymahfoedh Daery 70. Widodo Arumdono 71. Wig SM 72. Wilson Tjandinegara 73. Wowok Hesti Probowo 74. Yudhi Ms. 75. Zakier El Makmur › Menyambut pemberian gelar Kota Sastra UNESCO, Jakarta menyiapkan sejumlah program literasi. Kompas/Priyombodo Seorang remaja mencari buku bacaan di perpustakaan bersama di Taman Situ Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 26/12/2021.JAKARTA, KOMPAS — Jakarta ditetapkan sebagai Kota Sastra oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pada November 2021. Sejumlah program literasi pun disiapkan untuk menyambut gelar Harian Komite Jakarta Kota Buku Laura Prinsloo pada Senin 27/12/2021 mengatakan, Jakarta punya potensi besar sebagai kota literasi. Sejumlah industri penerbitan bermula dan berdomisili di Jakarta, begitu pula dengan komunitas-komunitas literasi. Pameran buku hingga festival literasi besar pun ada di Jakarta. Jakarta memiliki perpustakaan serta penerbit komersial dan nonkomersial. Jumlah orang yang mengunjungi perpustakaan digital selama pandemi Covid-19 di 2020 pun naik 415 persen.”Jakarta sebagai City of Literature Kota Sastra merupakan bagian dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO. Kita diharapkan dapat menjalin kerja sama, tidak hanya dengan pihak dalam negeri, tapi juga dengan kota-kota lain dalam jejaring,” kata Laura pada diskusi daring berjudul ”Jakarta sebagai UNESCO City of Literature Bagaimana Para Pemangku Kepentingan Sastra Menyambutnya?”.KOMPAS/RIZA FATHONI Anak-anak membaca buku di Bale Buku di perkampungan Gang Dendrit, RT 004 RW 008, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Senin 29/11/2021. Bale ini berawal dari pos ronda yang disulap menjadi perpustakaan untuk anak-anak. Sebagian buku disumbang dari Suku Dinas Sudin Perpustakaan Jakarta Timur, sebagian lagi dari donasi warga sekitar, komunitas, dan perorangan pencinta buku. Koleksi buku di tempat ini kini mencapai sekitar 500 City of Literature ialah Bucheon, Korea Selatan; Nanjing, China; dan Melbourne, Australia. Kota-kota itu adalah bagian dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO UNESCO Creative Cities Network/UCCN. Pada November 2021, ada tambahan 49 kota dalam UCCN. Dengan demikian, ada 295 kota di 90 negara dalam Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Ismunandar mengatakan, ada empat kota di Indonesia yang masuk dalam UCCN. Keempatnya adalah Pekalongan sebagai Kota Kriya dan Seni Rakyat ditetapkan pada 2014, Bandung sebagai Kota Desain 2015, Ambon sebagai Kota Musik 2019, serta Jakarta sebagai Kota Sastra 2021.Baca juga Gerakan Literasi, Lompatan Besar Intelektual Muda BintaunaTiga unsurPenetapan Jakarta sebagai City of Literature mesti diikuti dengan sejumlah program terkait literasi. Sejumlah program sudah disusun dan akan segera dilaksanakan. Laura mengatakan, program mengangkat tiga unsur, yaitu sosial, ekonomi, dan seni akan diwujudkan dalam empat pilar. Pertama, pengembangan komunitas buku. Kedua, pertemuan pemangku kepentingan industri buku dan konten. Ketiga, penguatan budaya literasi untuk menghadapi bonus demografi. Terakhir, memperkuat ekosistem sastra dan konten.”Beberapa program turunannya seperti Sayembara Kampung Literasi, pembuatan aplikasi, dan adanya perpustakaan mikro di MRT, KRL, dan sebagainya. Kami juga mengusulkan ke Pemprov DKI Jakarta untuk membuat Taman Buku Martha Tiahahu. Taman itu rencananya terdiri dari beberapa toko buku, tempat diskusi, dan perpustakaan,” kata harap gelar ini membawa perubahan dan perkembangan terhadap budaya gemar membaca di DKI Jakarta serta pengembangan kelestarian khazanah A Setyawan Pustakawan melakukan penataan bahan pustaka shelving di Perpustakaan Umum Daerah Jakarta Selatan, Gandaria, Jakarta, Rabu 27/10/2021. Perpustakaan umum di Ibu Kota mulai melayani baca di tempat sejak Senin 25/10/2021. Pembukaan perpustakaan umum itu seiring dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat PPKM level 2 di Ibu Kota. Namun, jumlah pengunjung dibatasi 50 persen dari kapasitas juga mengajukan inisiatif lain, yakni Jakarta sebagai tuan rumah kongres International Publisher Association tingkat dunia. Kongres itu menurut rencana digelar pada November 2022. Laura menambahkan, menjadikan Jakarta sebagai Kota Sastra yang berkelanjutan butuh dukungan semua pemangku kepentingan, baik pemerintah provinsi, komunitas, maupun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Wahyu Haryadi mengatakan, penetapan Jakarta sebagai Kota Sastra merupakan jalan terang untuk kemajuan kesusastraan dan perpustakaan di DKI Jakarta. Literasi dan sastra pun mesti dijadikan simbol kota.”Saya harap gelar ini membawa perubahan dan perkembangan terhadap budaya gemar membaca di DKI Jakarta serta pengembangan kelestarian khazanah sastra,” ucap FATHONI Ketua RT 004 membuka kemasan buku donasi untuk Bale Buku di perkampungan Gang Dendrit, RT 004 RW 008, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Senin 29/11/2021. Bale ini berawal dari pos ronda yang disulap menjadi perpustakaan untuk anak-anak. Sebagian buku disumbang dari Sudin Perpustakaan Jakarta Timur, sebagian lagi dari donasi warga sekitar, komunitas, dan perorangan pencinta buku. Koleksi buku di tempat ini kini mencapai sekitar 500 juga Pemulihan ”Learning Loss” Perlu Serius DilakukanSementara itu, Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Manneke Budiman mengingatkan agar gelar ini dimaknai secara tepat, apakah Jakarta sebagai Kota Sastra atau Kota Buku. Hal ini akan berpengaruh pada program yang disusun. Adapun keberhasilan program akan menentukan reputasi kota dan negara saat UNESCO melakukan evaluasi dia, Jakarta lebih tepat disebut Kota Sastra karena telah punya reputasi sebagai pusat sastra di Indonesia. Jakarta juga sudah memiliki modal penunjang, seperti penyelenggaraan Jakarta International Literary Festival JILF oleh DKJ hingga ASEAN Literary Festival ALF oleh Kemendikbudristek. Ada pula jejak peristiwa sastra di Jakarta, seperti Surat Kepercayaan Gelanggang dan Manifesto Kebudayaan.”Ada makam sastrawan di Jakarta, seperti Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer. Ada potensi wisata sastra bila diolah. Contohnya, di Startford-upon-Avon hanya ada satu rumah kelahiran sastrawan Shakespeare. Namun, kota itu disulap agar identik dengan sastrawan tersebut,” tutur Manneke. › Selama pandemi Covid-19, kegiatan komunitas sastra di berbagai daerah tetap berjalan meski di ruang virtual. Sastra berjalan ke arahnya yang baru yakni sebagai gerakan akar rumput. Oleh BUDI SUWARNA, ELSA EMIRIA LEBA, MOHAMMAD HILMI FAIQ, DWI AS SETIANINGSIH 6 menit baca ARSIP LAKOAT KUJAWASSuasana lokakarya musikalisasi puisi yang dilakukan oleh anak-anak di Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. didirikan Dicky Senda pada 2016, merupakan kewirasahaan sosial yang fokus pada pengembangan pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi kreatif masyarakat lokal. KOMPAS, JAKARTA — Dalam beberapa tahun terakhir, komunitas-komunitas sastra tumbuh subur di berbagai daerah. Komunitas-komunitas itu bergerak ke arah baru yakni sebagai bagian dari gerakan literasi dan pemberdayaan di akar rumput. Komunitas ini diikuti beragam kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa, mahasiswa, karyawan di perkotaan, hingga ibu rumah tangga di desa. Pengamat melihat hal ini sebagai gejala demokratisasi sastra yang menjanjikan lahirnya aneka wacana sastra antara lain tumbuh di Sulawesi Barat. Dahri Dahlan, sastrawan Mandar, Kamis 3/3/2022, menceritakan, saat ini setidaknya ada 13 komunitas sastra yang melibatkan banyak warga dari berbagai kalangan, termasuk buruh migran di beberapa kabupaten di Sulbar. Sebagian komunitas, terutama yang bergerak di bidang teater, sudah ada sejak 1990. Sebagian lagi baru muncul pada tahun 2000-an. Kemunculan komunitas-komunitas itu diikuti dengan ledakan penerbitan buku sastra pada 2015. ”Tiba-tiba saja orang Sulbar seperti berlomba-lomba menulis dan menerbitkan buku cerita. Bersastra sudah seperti gaya hidup saja,” ujar Dahri, penulis cerita anak mandar Kisah Samariona yang diadaptasi menjadi drama sinisiar podcast oleh Teater buku-buku yang ditulis penulis lokal, lanjut Dahri, didorong munculnya penerbit-penerbit buku di Polewali, salah satunya yang cukup intens menerbitkan buku adalah Gerbang Visual. Sebelumnya, penulis di Sulbar menerbitkan buku di penerbitan di Yogyakarta. Lantas bukunya dikirim ke Sulbar. Sekarang dengan adanya penerbit buku lokal, penerbitan buku jadi lebih murah dan massif. Penulis juga lebih bebas berdiskusi terkait isi buku termasuk narasi yang ingin PaqissangangSalah satu kegiatan Bendipustaka Paqissangang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Tampak seorang remaja putri yang masih sangat belia membacakan salah satu puisi dari penyair terkenal kita, Chairil Anwar, yang terhimpun dalam buku AKU.”Kami penulis jadi punya pikiran bagaimana membuat corak baru dari satra Mandar yang berbeda dengan daerah lain,” ujar Dahri yang juga dosen pada Program Studi Sastra Indonesia Universitas Mulawarman, Kalimantan gairah sastra di Sulbar, lanjut Dahri, muncul penulis-penulis baru yang menekuni isu-isu spesifik. Salah seorang di antaranya Nasmawati Nahar yang fokus menulis kisah perempuan dan buruh migran korban di Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, NTT, lahir komunitas yang diinisiasi oleh Dicky Senda. Komunitas yang bermula di sebuah perpustakaan kecil itu kini beranggotakan sekitar 200 anak dan 50 warga dewasa yang tersebar di beberapa desa, seperti Taiftob dan juga Selamatkan Sastra dari KebangkrutanLewat berbagai pelatihan penulisan dan kolaborasi, anggota komunitas berhasil menulis aneka buku yang ceritanya diangkat dari tradisi adat, legenda, dan fabel Mollo. Mereka juga mengambil foto-foto Mollo dan mengumpulkan resep-resep kuliner Mollo. Semua itu lantas dibuatkan arsipnya di media sosial. Lewat media sosial pula mereka mengampanyekan Mollo ke dunia Senda mengatakan, dulu banyak anak muda tidak tahu sejarah, budaya, dan narasi Mollo. Sekarang mereka sudah belajar lagi. ”Seni dan budaya menjadi jembatan penghubung generasi muda dan tua karena menyentuh perasaan dan jiwa, relevan dengan kehidupan,” kata Dicky, Rabu 2/3/2022.ARSIP LAKOAT KUJAWASSuasana proses perekaman musikalisasi puisi dari buku Tubuhku Batu, Rumahku Bulan oleh komunitas di Mollo Utara, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. didirikan Dicky Senda pada 2016, merupakan kewirausahaan sosial yang fokus pada pengembangan pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi kreatif masyarakat lokal. Di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, tumbuh komunitas Babasal Mombasa yang merupakan akronim tiga suku yang ada di Banggai, yakni Banggai, Balantak, dan Saluan. Adapun Mombasa artinya membaca. Ama Achmad, pendiri Babasal Mombasa, mengatakan, komunitas itu dibentuk sebagai penanda identitas kultural Banggai. Komunitas ini rajin merekam peristiwa yang terjadi di Banggai dalam bentuk tulisan, menggelar malam puisi, dan merancang penerbitan buku-buku sastra di kabupaten yang sampai sekarang tidak memiliki toko buku serupa muncul di Madura. Salah satu penandanya adalah komunitas Perempuan Membaca yang didirikan Iffah Hannah pada 2016. Di komunitas ini, perempuan dari berbagai latar belakang dan usia didorong untuk saling berbagi cerita buku yang mereka baca, mendiskusikan persoalan yang sering dihadapi perempuan. Sebagian anggota rajin menulis pengalaman mereka di situs komunitas dalam aneka genre Solok, Sumatera Barat, muncul komunitas Gubuak Kopi pada 2012. Komunitas yang diinisiasi Albert Rahman Putra ini mendokumentasikan banyak hal tentang Solok lewat program Vlog Kampuang. Kampanye ini mendapat tanggapan antusias dari masyarakat Solok dengan mengirim dokumentasi potret sosial dan wajah kontemporer Solok. Hingga saat ini, sudah ada sekitar unggahan di akun solokmilikwarga di juga Gairah Berkisah Penulis TuaKomunitas juga merilis buku, menggelar sejumlah proyek seni dan sastra, dan menemani 100 penulis muda yang menjadi anggotanya. “Kami ingin membangun narasi tentang Solok dengan berbagai metode,” kata serupa muncul pula di berbagai daerah di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, dan lain-lain. Pada masa pandemi Covid-19, kegiatan komunitas sastra di berbagai daerah tetap jalan meski pindah ke ruang virtual. Dari pelosok-pelosok daerah di Indonesia mereka menggelar webinar penulisan sastra atau diskusi sastra di IG Live, bahkan residensi Perempuan Membaca, misalnya, menggelar IG Live untuk berbagi pengalaman soal novel pesantren dengan menghadirkan Khilma Anis, penulis Hati Suhita, yang oplahnya hampir mencapai eksemplar lewat penjualan sendiri tanpa toko sastraNirwan Arsuka, inisiator program literasi Pustaka Bergerak, melihat, munculnya komunitas-komunitas dalam beberapa tahun terakhir sebagai fenomena menarik karena di situ ada semacam demokratisasi kegiatan sastra. Pelakunya bukan hanya para sastrawan yang cukup mapan, melainkan juga kalangan lain yang semula tidak banyak bersentuhan dengan dunia DESTIAN/GALERI NASIONAL INSuasana Pameran Daur Subur 7 Circumstance pada tahun 2021. Circumstance adalah presentasi publik dari studi mengenai keterkaitan unsur dan elemen masyarakat di Kelurahan Kampung Jawa, Solok, Sumatera Barat. Proyek lanjutan dari proyek seni Daur Subur ini digagas oleh Komunitas Gubuak Kopi, sebuah komunitas yang didirikan Albert Rahman Putra. “Ini sebenarnya dilakukan sejak dulu. Tetapi kawan-kawan komunitas sekarang fasih menggunakan medium sastra sebagai ekspresi kultural maupun politik. Mereka menggunakan sastra bukan untuk ego individu tapi kolektif. Kecenderungan ini meluas di banyak daerah yang jauh dari Jawa,” ujar Nirwan, Rabu 3/3/2022.Fenomena ini, lanjut Nirwan, penting karena melahirkan narasi-narasi baru yang dikemas dalam aneka medium mulai teks tertulis, pertunjukan drama, komik, film, dan lain-lain. Perspektif yang mereka gunakan juga sangat berbeda dengan perspektif dominan dalam melihat persoalan melihat ada beberapa faktor yang mendorong fenomena tersebut. Pertama, kemudahan dalam memperoleh dan menyebarkan informasi di era dgital. Kedua, tumbuhnya penerbitan-penerbitan indie di berbagai daerah. Ketiga, ada kesadaran di kalangan komunitas sastra bahwa mereka mesti memiliki suara yang otentik. ”Sekarang suara-suara pinggiran dianggap penting dan makin dihargai. Ini merangsang kawan-kawan untuk menggali narasi-narasi lokal,” ujar jaringan komunitas sastra di daerah, lanjut Nirwan, belajar dari Yogyakarta dan Bandung yang secara kultural dianggap sebagai tandingan narasi Jakarta. Komunitas sastra di Yogyakarta dan Bandung masih ada yang setia mendampingi komunitas-komunitas sastra di daerah, mengajari mereka mengedit buku, dan mendorong teman-teman untuk pulang ke daerah masing-masing dan mengembangkan sastra di sastra di daerah, lanjut Nirwan, telah menghasilkan banyak karya dengan perspektif yang unik. ”Soal lahirnya karya yang punya kualitas tinggi kita tinggal tunggu waktu saja,” ujar yakin hal itu akan karena dari sejumlah komunitas sastra muncul penulis-penulis yang menunjukkan kemampuan yang semakin hebat dalam menggunakan bahasa Indonesia. ”Kawan-kawan di Sulsel dan NTT misalnya penggunaan bahasanya tidak kalah dengan penulis di Jawa, bahkan ada yang lebih bagus,” kata Nirwan. BSW/DOE/MHF/LSA